Friday, December 02, 2005

Bersama Meraih" Khusnul Khatimah"

Bersama Meraih ”Khusnul Khatimah”Oleh ROHMAN SATRIANI MUHAMMAD
SEJATINYA Allah sajalah yang tahu kapan kematian seseorang itu tiba. Yang pasti, ajal itu akan datang kapan pun saatnya. Ketika ajal datang, tak seorang pun mampu menunda atau memajukannya. Tiada seorang juga yang sanggup menghindar dari kematian, meski ia bersembunyi di dalam sebuah benteng yang kokoh.
Kematian memanglah akhir bagi perjalanan hidup manusia di dunia. Tetapi sebenarnya, ia merupakan awal bagi suatu kehidupan yang kekal di akhirat. Perihal bagaimana keadaan manusia di akhirat nanti, tentu sangat tergantung dari bagaimana manusia menjalani kehidupannya ketika di dunia, apakah ia beriman kepada Allah atau tidak. Bila ia seorang yang beriman, apakah ia banyak beramal saleh atau tidak. Bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, Allah berjanji akan menempatkannya dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sementara bagi orang yang kafir atau musyrik, Allah pasti akan menjebloskannya ke neraka jahanam. Demikian pula bagi orang yang beriman, tetapi banyak melakukan maksiat, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, kecuali bila Allah berkenan mengampuninya.
Menyadari hal itu, manusia semestinya melakoni hidupnya di dunia yang hanya sekali ini dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan cara memperteguh imannya kepada Allah seraya menjauhi segala hal yang menimbulkan murka-Nya. Sigap melaksanakan amal saleh dengan menjalankan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan, serta menjauhi perbuatan maksiat. Ingin saya utarakan renungan kepada siapa saja yang mendamba akhir kehidupan yang baik, kerinduan akan negeri akhirat dengan rida, dan ampunan-Nya.
Cita-cita muslim
Telah menjadi bagian dari cita-cita setiap muslim, bahwa mereka menghendaki akhir kehidupan yang baik (khusnul khatimah). Oleh karena itu seorang muslim harus memahami apa yang harus dilakukan agar ia bisa meraih akhir kehidupan dunia secara baik sehingga di akhirat nanti ia berada dalam naungan rahmat dan rida Allah. Di antara yang harus diperhatikan itu adalah pertama, memurnikan tauhid dan menjauhi perbuatan syirik. Mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada Allah dan tulus menjalankan syariat agamanya merupakan kunci utama meraih keridaan-Nya. Sebaliknya, perbuatan syirik yaitu menyekutukan Allah dengan suatu yang lain dalam menjalankan ibadah ataupun ketaatan lainnya, menjadi pangkal pertama datangnya kemurkaan Allah. Dia telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang melakukan syirik, bahkan nerakalah tempat tinggal yang kekal untuk mereka. "Sesungguhnya orang-oang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik, mereka kekal di dalam neraka jahanam." (TQS al-Bayyinah: 6).
Kedua, bertaubat kepada Allah. Sebagai manusia biasa, wajar saja bila seseorang dalam hidupnya acap melakukan kesalahan. Yang tidak wajar adalah ketika ia secara sadar terus-menerus melakukan kesalahan sekali pun sudah diingatkan, dan setelah melakukan kesalahan tidak merasa bersalah atau mengakui kesalahan. Allah mempunyai siksa yang amat pedih, namun Allah juga Dzat yang Mahapengampun. Yakinlah bahwa Allah akan mengampuni siapa saja yang bertaubat kepada-Nya. "Wahai orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sesungguh-sungguhnya" (TQS at-Tahrim: 8). Sabda Rasul,"semua manusia itu berbuat kesalahan, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat" (HR. Tirmidzi dan Hakim).
Oleh karena itu, siapa pun di antara manusia yang sungguh-sungguh melakukan taubat dengan meninggalkan jauh-jauh segala larangan-Nya, niscaya Allah Swt akan menerima taubatnya dan mengampuni semua dosa-dosanya.
Ketiga, memperbanyak amal saleh. Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Hidup seorang muslim haruslah didedikasikan untuk menjalankan ketaatan dan menghindari maksiat. Yakni dengan cara menjalankan semua yang diperintahkan dan menghindari yang dilarang, seraya seoptimal mungkin melakukan yang disunahkan dan menghindari yang dimakruhkan, baik itu menyangkut perkara ibadah mahdah (puasa, salat, zakat, haji, dan sebagainya), makanan, minuman, pakaian, akhlak, dan muamalah (ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya).
Untuk mencapai khusnul khatimah, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh seraya meningkatkan ketaatannya pada aturan-aturan Islam dalam semua perkara. Juga, menghindari pelanggaran. Bila tidak demikian, khawatir maut menjemput justru di saat tengah melakukan maksiat. Sebenarnya tidak hanya dalam keadaan kritis. Siapa saja bila memahami hakikat kematian, bahwa ia bisa datang setiap saat, akan terdorong untuk terus-menerus melakukan taat dan menjauhi maksiat.
Keempat, meminta maaf dan mengembalikan semua hak orang lain. Di samping bertobat, langkah yang harus dilakukan adalah meminta maaf kepada manusia dan mengembalikan semua hak-hak orang lain. Dengan tobat, semua kesalahan manusia dalam hubungannya dengan Allah niscaya akan diampuni. Tapi tidak demikian halnya dengan kesalahan pada manusia.
Kesalahan terhadap manusia baru akan diampuni oleh Allah bila yang bersangkutan meminta maaf kepada orang yang dizalimi, kemudian mengembalikan semua hak-hak yang sempat dirampasnya. Bila ia seorang penguasa, tentu saja ia harus meminta maaf kepada seluruh rakyatnya terutama kepada mereka yang selama ia berkuasa pernah ditindasnya, dirampas haknya atau didzalimi. Bila ia seorang koruptor, di samping permintaan maaf, uang hasil korupsi itu harus dikembalikan kepada rakyat.
Rasulullah bersabda,"Manusia yang paling bijaksana adalah mereka yang terbanyak ingatannya akan kematian serta yang terbanyak amalannya sebagai persiapan untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar bijaksana dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat." (HR. Ibnu Majah).
Wallahu a'lam bishshowab!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home