Friday, December 09, 2005

Membersihkan " Sampah " dari Pikiran

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar (republika)

Saudaraku, ada kisah menarik dari Anas bin Malik. Suatu ketika ia berjalan dengan Rasulullah SAW. Ketika itu, datanglah seorang Arab badui dari arah belakang. Dengan serta-merta ia menarik jubah najraani yang dikenakan Rasulullah SAW.
Anas berkata, ''Aku memandang leher Rasulullah dan melihat bahwa jubah itu telah meninggalkan bekas merah di sana karena kerasnya tarikan. Orang badui itu kemudian berkata, 'Wahai Muhammad, beri aku sebagian dari kekayaan Allah yang ada di tanganmu'. Rasul kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi uang.''
Kisah ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah membalas keburukan orang dengan keburukan lagi. Saat dihina, beliau tidak marah atau sakit hati. Beliau justru mendoakan kebaikan. Mengapa Rasulullah SAW mampu tenang dan bijak menghadapi gangguan orang lain? Jawabnya, Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan kejernihan pikiran.
Ternyata, yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah diri kita. Penyikapan yang buruk terhadap suatu kejadian adalah sumber penderitaan. Mirip orang yang sariawan makan keripik pedas. Ia menangis, marah, dan uring-uringan. Yang membuat ia menderita bukan keripiknya, melainkan lidahnya yang berpenyakit. Bagi orang yang tidak sariawan, keripik tersebut nikmat dan renyah.
Saudaraku, ada banyak hal yang membuat hidup kita tidak nyaman. Salah satunya adalah kegemaran menyimpan ''memori-memori'' buruk. Otak bisa diibaratkan wadah penyimpanan yang akan kotor ketika kita mengisinya dengan sampah.
Pengalaman-pengalaman buruk, seperti penghinaan, perlakukan buruk, cemoohan, ketersinggungan, kegagalan, dan lainnya; adalah ''sampah'' yang berpotensi mengotori pikiran. Semakin sering kita menyimpan memori buruk di otak, semakin negatif sikap dan perilaku kita.
Karena itu, satu syarat agar hidup kita bahagia adalah membersihkan kepala dari ''sampah-sampah'' busuk. Bagaimana caranya? Pertama, selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti kita, carilah seribu satu alasan agar kita tidak benci. Ingatlah selalu kebaikannya. Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.
Kedua, segera lupakan semua perlakuan buruk orang lain. Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah segera membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yang lain. Demikian pula saat orang berlaku buruk pada kita, menghina misalnya, alangkah bijak bila kita segera menghapusnya, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang.
Ketiga, mohonlah kepada Allah SWT agar diberi hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ada doa dalam Alquran yang bisa kita panjatkan, ''Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku; agar mereka mengerti perkataanku.'' (QS Thaahaa [20]: 25-28). Wallahu a'lam bish-shawab.

Alasan Berdzikir

Oleh : Muhammad Arifin Ilham (republika)

Allah SWT memerintahkan berdzikir kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan berdzikir, kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang beriman itu. Semakin kuat iman, makin hebat pula dzikir kita kepada Allah SWT. Orang yang tidak beriman pun tidak akan memiliki keinginan berdzikir. Allah SWT berfirman, ''Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman dibahagiakan oleh Allah SWT dengan banyak dzikir mereka kepada Allah SWT.'' (QS Al Hadid [57]: 16)
Dzikir kepada Allah SWT juga menjadi alat untuk menghapus dosa. Kita semua memiliki dosa, sehingga kita juga memerlukan dzikir untuk menghapusnya. Seperti difirmankan dalam Surat Al Ahzab [33] ayat 35, Allah mempersiapkan pengampunan dosa dan ganjaran yang mulia bagi Muslimin dan Muslimat yang berdzikir.
Pentingnya berdzikir juga diungkap dalam hadis, dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu ada pengilapnya (pembersihnya). Sesungguhnya pengilap hati adalah dzikrullah.'' (HR Ibnu Abidunya dan Baihaqi dari riwayat Said bin Sinan. Lihat At Targhib wat Tarhib juz 11 hal 243). Dengan hati yang bersih, kita akan mudah mengakses hidayah Allah SWT.
Lebih jauh lagi, dzikir juga membawa ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan hidup. Sebagaimana Allah SWT nyatakan dalam firman-Nya, ''(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikrullah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir hati menjadi tenteram.'' (QS Ar Ra'du [13]: 28). Kita bahagia mencintai ayah, ibu, anak-anak, suami atau istri. Subhanallah, betapa bahagianya saat kita bisa mencintai Yang Menciptakan Cinta itu: Mahacinta.
Dengan berdzikir, kita juga berarti mengundang rahmat Allah SWT dan doa para malaikat. Allah SWT juga akan menyelamatkan orang yang berdzikir dari kegelapan, kedzaliman, serta maksiat, menuju cahaya-Nya. Hadis dari Abu Hurairah dan Abu Said Al Khudri menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Tidaklah duduk suatu kaum yang berdzikir nama Allah melainkan dinaungilah mereka oleh para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah SWT dan diberi ketenangan kepada mereka, juga Allah SWT menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.'' (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Dzikir juga merupakan makanan rohani yang paling bergizi serta membangkitkan selera ibadah dan akhlak mulia. Dzikir juga menjadi benteng dari gangguan setan. Dengan berdzikir, peluang kita untuk mendapatkan husnul khatimah juga semakin terbuka.
Inilah di antara alasan dan hikmah yang mendorong kita untuk terus-menerus berdzikir. Karena itulah dzikir menjadi ibadah yang bisa dilakukan kapan pun, di manapun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Selama berdzikir, selama itu pula kita bersama Allah SWT. Imam Suyuti berkata, ''Berdzikirlah kalian terus-menerus kepada Allah SWT, jangan sekalipun meninggalkannya. Sesungguhnya dzikir itu seperti raja yang akan menundukkan hatimu untuk taat kepada-Nya.'' Subhanallah.

Lambang SMAN 12 Bandung



















Segi Perisai 6 = lambang Kekuatan (Sumber Kekuatan dan indra ke 6)
2 Sayap ( Upara pendorong dalam mengejar Cita-cita )
Prisai = Pelindung / Pembela
Sayap 2 x 7 = 14 (tanggal berdiri SMA 12) = 7 April 1977
Kalam = Lambang Pendidikan
Mahkota 4 lembar = Bulan berdiri SMA 12 (April)
Bunga Melati = Lambang Kesucian
Serbuk Sari Kuning = Keluhuran Budi
Warna Coklat dan Krem = Seragam SMA 12
Jingga = Dasar warna Bendera Sekolah
 
1. Dasar lambang Perisai : Sebagai pelindung / pembela
2. Sepasang Sayap : Melambangkan upaya/pendorong dalam mengejar cita-cita
3. Tujuh bulu pada masing2sayap : Lambang mulainya berdiri SMA Negeri 12 ( 7 April 1977 )
4. Kalam di pangkal sayap : Lambang Pendidikan

Friday, December 02, 2005

Bersihkan Diri di Sungai Penghapus Dosa

Bersihkan Diri di Sungai Penghapus Dosa
Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).
Shalat merupakan bentuk komunikasi langsung dengan Allah. Langsung, karena tidak boleh diwakilkan pada orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apa pun. Berbeda dengan puasa yang bisa diganti dengan fidyah pada kondisi tertentu, atau haji yang bisa dikerjakan oleh orang lain dengan syarat-syarat khusus. Shalat adalah sarana percakapan hamba dengan Penciptanya.
Sungguh indah kehidupan seorang Muslim. Begitu romantis hubungannya dengan sang Pencipta. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti Dhuha, Witir, Tahajjud, dan sebagainya. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.
Shalat, menurut Rasulullah saw seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Abu Hurairah meriwayatkan, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?”
Mereka menjawab, “Tidak ada!” Rasulullah bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus semua kesalahan,” (HR Bukhari Muslim).
Dengan redaksi yang hampir sama, Jabir meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).
Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran dan hanyut di sungai “penghapus dosa”. Tak ada kenikmatan, selain bermunajat kepada Allah lewat shalat.
Shalat juga dijadikan Rasulullah saw sebagai sarana istirahat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah saw berkata kepada Bilal, “Ya Bilal, aqimish shalah wa arihna biha (Hai Bilal, dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya).” Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah shalat (HR Ibnu Majah).
Pertanyaannya, shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai “sungai penghapus dosa” itu? Pertama, shalat yang khusyuk. Shalat yang khusyuk adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat “kesuksesan” dari Allah. Karena khusyuk dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim. Meskipun khusyuk itu relatif, namun berusaha untuk khusyuk dalam shalat adalah suatu keharusan. Sebab, dengan shalat yang khusyuk itulah, keberuntungan bisa diraih. Allah SWT berfirman, “Telah beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (QS al-Mukminun: 1-2).
Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah kemestian. Rasulullah pernah menyebutkan, ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyukan. (HR ath-Thabrani). Tentunya untuk meraih kekhusyukan, ada kiat-kiat khusus. Di antaranya dengan memperbaiki cara berwudhu. Wudhu yang tidak sempurna, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan.
Rasulullah saw mengingatkan, “Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian memperbagus wudhunya, lalu mendirikan shalat dua rakaat yang benar-benar menghadapkan hati dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga,” (HR Muslim).
Selain itu, shalat yang khusyuk adalah “media” untuk menggapai ampunan Allah SWT. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku’ dan sujud dengan baik, kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya,” (HR ath-Thabrani).
Selain itu, kekhusyukan bisa juga digapai dengan menggunakan pakaian yang terbaik. Kita dapat merasakan sendiri, perbedaan ketika shalat dengan pakaian seadanya dan dengan pakaian yang bagus. Khusyuk juga bisa direngkuh dengan menyempurnakan shalat, melaksanakan sunnah-sunnahnya dan tidak dengan buru-buru. Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ruku’ dan sujudnya tidak sempurna,” (HR Ahmad).
Kedua, dilakukan di awal waktu. Shalat inilah yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya!’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa (lagi)?’ ‘Berbakti kepada kedua orang tua,’ jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’,” (Muttafaq ‘Alaih).
Dalam hadits lain Rasulullah saw menambahkan, “Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah melipatgandakan pahala kalian,” (HR ath-Thabrani). Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas. Amal adalah “jasad”, dan ruhnya adalah “ikhlas”. Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat sebagai orang yang rajin shalat hanya akan menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk “ikhlas” dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekadar “menggugurkan” kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan.
Allah menjelaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...,” (QS al-Bayyinah: 5). Keempat, dilakukan secara berjamaah. Shalat berjamaah sangat tinggi nilainya dan sangat besar pahalanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri,” (Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan lebih utama dua puluh lima kali dibanding shalat fardhu.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat,” (HR Abu Dawud dan Trimidzi).
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk,” (HR Muslim).
Dengan memperhatikan beberapa hal itu, kita berharap shalat yang kita lakukan bisa menghapus dosa-dosa seperti orang mandi di sungai yang bersih sebanyak lima kali sehari. Ia takkan menyisakan kotoran sedikit pun. Bersih.
Hepi Andi

Bersihkan Diri di Sungai Penghapus Dosa

Bersihkan Diri di Sungai Penghapus Dosa
Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).
Shalat merupakan bentuk komunikasi langsung dengan Allah. Langsung, karena tidak boleh diwakilkan pada orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apa pun. Berbeda dengan puasa yang bisa diganti dengan fidyah pada kondisi tertentu, atau haji yang bisa dikerjakan oleh orang lain dengan syarat-syarat khusus. Shalat adalah sarana percakapan hamba dengan Penciptanya.
Sungguh indah kehidupan seorang Muslim. Begitu romantis hubungannya dengan sang Pencipta. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti Dhuha, Witir, Tahajjud, dan sebagainya. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.
Shalat, menurut Rasulullah saw seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Abu Hurairah meriwayatkan, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?”
Mereka menjawab, “Tidak ada!” Rasulullah bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus semua kesalahan,” (HR Bukhari Muslim).
Dengan redaksi yang hampir sama, Jabir meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali,” (HR Muslim).
Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran dan hanyut di sungai “penghapus dosa”. Tak ada kenikmatan, selain bermunajat kepada Allah lewat shalat.
Shalat juga dijadikan Rasulullah saw sebagai sarana istirahat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah saw berkata kepada Bilal, “Ya Bilal, aqimish shalah wa arihna biha (Hai Bilal, dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya).” Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah shalat (HR Ibnu Majah).
Pertanyaannya, shalat yang bagaimanakah yang berfungsi sebagai “sungai penghapus dosa” itu? Pertama, shalat yang khusyuk. Shalat yang khusyuk adalah shalat seorang Mukmin yang benar-benar mendapat “kesuksesan” dari Allah. Karena khusyuk dalam shalat adalah dambaan setiap Muslim. Meskipun khusyuk itu relatif, namun berusaha untuk khusyuk dalam shalat adalah suatu keharusan. Sebab, dengan shalat yang khusyuk itulah, keberuntungan bisa diraih. Allah SWT berfirman, “Telah beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (QS al-Mukminun: 1-2).
Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah kemestian. Rasulullah pernah menyebutkan, ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyukan. (HR ath-Thabrani). Tentunya untuk meraih kekhusyukan, ada kiat-kiat khusus. Di antaranya dengan memperbaiki cara berwudhu. Wudhu yang tidak sempurna, akan menimbulkan rasa was-was dalam hati. Wudhu yang asal jadi hanya menyia-nyiakan air. Itulah mubadzir, dan mubadzir adalah perbuatan syaitan.
Rasulullah saw mengingatkan, “Tidak seorang Muslim pun yang berwudhu, kemudian memperbagus wudhunya, lalu mendirikan shalat dua rakaat yang benar-benar menghadapkan hati dan wajahnya, melainkan ia wajib memperoleh surga,” (HR Muslim).
Selain itu, shalat yang khusyuk adalah “media” untuk menggapai ampunan Allah SWT. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian ia shalat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat, baik itu shalat wajib atau selainnya (shalat sunnah), dimana ia ruku’ dan sujud dengan baik, kemudian meminta ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampunkannya,” (HR ath-Thabrani).
Selain itu, kekhusyukan bisa juga digapai dengan menggunakan pakaian yang terbaik. Kita dapat merasakan sendiri, perbedaan ketika shalat dengan pakaian seadanya dan dengan pakaian yang bagus. Khusyuk juga bisa direngkuh dengan menyempurnakan shalat, melaksanakan sunnah-sunnahnya dan tidak dengan buru-buru. Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk manusia adalah yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ruku’ dan sujudnya tidak sempurna,” (HR Ahmad).
Kedua, dilakukan di awal waktu. Shalat inilah yang dicintai oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya!’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa (lagi)?’ ‘Berbakti kepada kedua orang tua,’ jawab beliau. Lalu aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’,” (Muttafaq ‘Alaih).
Dalam hadits lain Rasulullah saw menambahkan, “Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah melipatgandakan pahala kalian,” (HR ath-Thabrani). Ketiga, shalat yang dilakukan dengan ikhlas. Amal adalah “jasad”, dan ruhnya adalah “ikhlas”. Shalat yang dilakukan dengan niat agar dilihat sebagai orang yang rajin shalat hanya akan menghabiskan energi. Dalam setiap ibadah, Allah senantiasa menganjurkan kita untuk “ikhlas” dan mengharap ridha dari-Nya. Shalat yang hanya sekadar “menggugurkan” kewajiban adalah shalat yang tidak banyak memberikan bekas dalam kehidupan.
Allah menjelaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...,” (QS al-Bayyinah: 5). Keempat, dilakukan secara berjamaah. Shalat berjamaah sangat tinggi nilainya dan sangat besar pahalanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri,” (Bukhari Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan lebih utama dua puluh lima kali dibanding shalat fardhu.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat,” (HR Abu Dawud dan Trimidzi).
Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Barangsiapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk,” (HR Muslim).
Dengan memperhatikan beberapa hal itu, kita berharap shalat yang kita lakukan bisa menghapus dosa-dosa seperti orang mandi di sungai yang bersih sebanyak lima kali sehari. Ia takkan menyisakan kotoran sedikit pun. Bersih.
Hepi Andi

Bersama Meraih" Khusnul Khatimah"

Bersama Meraih ”Khusnul Khatimah”Oleh ROHMAN SATRIANI MUHAMMAD
SEJATINYA Allah sajalah yang tahu kapan kematian seseorang itu tiba. Yang pasti, ajal itu akan datang kapan pun saatnya. Ketika ajal datang, tak seorang pun mampu menunda atau memajukannya. Tiada seorang juga yang sanggup menghindar dari kematian, meski ia bersembunyi di dalam sebuah benteng yang kokoh.
Kematian memanglah akhir bagi perjalanan hidup manusia di dunia. Tetapi sebenarnya, ia merupakan awal bagi suatu kehidupan yang kekal di akhirat. Perihal bagaimana keadaan manusia di akhirat nanti, tentu sangat tergantung dari bagaimana manusia menjalani kehidupannya ketika di dunia, apakah ia beriman kepada Allah atau tidak. Bila ia seorang yang beriman, apakah ia banyak beramal saleh atau tidak. Bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, Allah berjanji akan menempatkannya dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sementara bagi orang yang kafir atau musyrik, Allah pasti akan menjebloskannya ke neraka jahanam. Demikian pula bagi orang yang beriman, tetapi banyak melakukan maksiat, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, kecuali bila Allah berkenan mengampuninya.
Menyadari hal itu, manusia semestinya melakoni hidupnya di dunia yang hanya sekali ini dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan cara memperteguh imannya kepada Allah seraya menjauhi segala hal yang menimbulkan murka-Nya. Sigap melaksanakan amal saleh dengan menjalankan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan, serta menjauhi perbuatan maksiat. Ingin saya utarakan renungan kepada siapa saja yang mendamba akhir kehidupan yang baik, kerinduan akan negeri akhirat dengan rida, dan ampunan-Nya.
Cita-cita muslim
Telah menjadi bagian dari cita-cita setiap muslim, bahwa mereka menghendaki akhir kehidupan yang baik (khusnul khatimah). Oleh karena itu seorang muslim harus memahami apa yang harus dilakukan agar ia bisa meraih akhir kehidupan dunia secara baik sehingga di akhirat nanti ia berada dalam naungan rahmat dan rida Allah. Di antara yang harus diperhatikan itu adalah pertama, memurnikan tauhid dan menjauhi perbuatan syirik. Mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada Allah dan tulus menjalankan syariat agamanya merupakan kunci utama meraih keridaan-Nya. Sebaliknya, perbuatan syirik yaitu menyekutukan Allah dengan suatu yang lain dalam menjalankan ibadah ataupun ketaatan lainnya, menjadi pangkal pertama datangnya kemurkaan Allah. Dia telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang melakukan syirik, bahkan nerakalah tempat tinggal yang kekal untuk mereka. "Sesungguhnya orang-oang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik, mereka kekal di dalam neraka jahanam." (TQS al-Bayyinah: 6).
Kedua, bertaubat kepada Allah. Sebagai manusia biasa, wajar saja bila seseorang dalam hidupnya acap melakukan kesalahan. Yang tidak wajar adalah ketika ia secara sadar terus-menerus melakukan kesalahan sekali pun sudah diingatkan, dan setelah melakukan kesalahan tidak merasa bersalah atau mengakui kesalahan. Allah mempunyai siksa yang amat pedih, namun Allah juga Dzat yang Mahapengampun. Yakinlah bahwa Allah akan mengampuni siapa saja yang bertaubat kepada-Nya. "Wahai orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sesungguh-sungguhnya" (TQS at-Tahrim: 8). Sabda Rasul,"semua manusia itu berbuat kesalahan, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat" (HR. Tirmidzi dan Hakim).
Oleh karena itu, siapa pun di antara manusia yang sungguh-sungguh melakukan taubat dengan meninggalkan jauh-jauh segala larangan-Nya, niscaya Allah Swt akan menerima taubatnya dan mengampuni semua dosa-dosanya.
Ketiga, memperbanyak amal saleh. Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Hidup seorang muslim haruslah didedikasikan untuk menjalankan ketaatan dan menghindari maksiat. Yakni dengan cara menjalankan semua yang diperintahkan dan menghindari yang dilarang, seraya seoptimal mungkin melakukan yang disunahkan dan menghindari yang dimakruhkan, baik itu menyangkut perkara ibadah mahdah (puasa, salat, zakat, haji, dan sebagainya), makanan, minuman, pakaian, akhlak, dan muamalah (ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya).
Untuk mencapai khusnul khatimah, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh seraya meningkatkan ketaatannya pada aturan-aturan Islam dalam semua perkara. Juga, menghindari pelanggaran. Bila tidak demikian, khawatir maut menjemput justru di saat tengah melakukan maksiat. Sebenarnya tidak hanya dalam keadaan kritis. Siapa saja bila memahami hakikat kematian, bahwa ia bisa datang setiap saat, akan terdorong untuk terus-menerus melakukan taat dan menjauhi maksiat.
Keempat, meminta maaf dan mengembalikan semua hak orang lain. Di samping bertobat, langkah yang harus dilakukan adalah meminta maaf kepada manusia dan mengembalikan semua hak-hak orang lain. Dengan tobat, semua kesalahan manusia dalam hubungannya dengan Allah niscaya akan diampuni. Tapi tidak demikian halnya dengan kesalahan pada manusia.
Kesalahan terhadap manusia baru akan diampuni oleh Allah bila yang bersangkutan meminta maaf kepada orang yang dizalimi, kemudian mengembalikan semua hak-hak yang sempat dirampasnya. Bila ia seorang penguasa, tentu saja ia harus meminta maaf kepada seluruh rakyatnya terutama kepada mereka yang selama ia berkuasa pernah ditindasnya, dirampas haknya atau didzalimi. Bila ia seorang koruptor, di samping permintaan maaf, uang hasil korupsi itu harus dikembalikan kepada rakyat.
Rasulullah bersabda,"Manusia yang paling bijaksana adalah mereka yang terbanyak ingatannya akan kematian serta yang terbanyak amalannya sebagai persiapan untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar bijaksana dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat." (HR. Ibnu Majah).
Wallahu a'lam bishshowab!

Makna Jihad

Makna Jihad Oleh : Asep Sulhadi
Jihad, kata yang kini menjadi sensitif dan kontroversial itu, sejatinya memiliki multimakna. Namun, kini mengalami penyempitan makna yang mengarah kepada perlawanan fisik; peperangan dan kekerasan yang radikal. Saat istilah jihad diucapkan, makna yang tersirat pun hanya pertempuran, agresi militer, bom bunuh diri, dan aksi-aksi kekerasan lain. Istilah jihad pun menjadi mengerikan banyak orang.
Kata jihad berasal dari bahasa Arab, dengan berakar kata al juhd atau al jahd. Dalam kamus Lisan Al Arab disebutkan bahwa al jahd itu bermakna kesulitan, sedangkan al juhd memiliki arti kemampuan dan kekuatan. Menurut Al Laits, al juhd dan al jahd memiliki satu arti yaitu segala sesuatu yang diusahakan seseorang dari penderitaan dan kesulitan.
Al Azhari, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Al Fara' menyebutkan bahwa kata ini memiliki arti tujuan. Sedangkan menurut Ibnu Arafah, al jahd bermakna mengerahkan kemampuan dan al juhd maknanya berlebihan dan tujuan. Kesimpulan dari pemaparan tersebut adalah jihad memiliki pengertian kesanggupan dalam mengerahkan kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan. Kesanggupan itu tetap diambil sekalipun dalam kondisi menderita dan sulit.
Meskipun mengalami perubahan struktur kata dan penambahan huruf, menjadi seperti al ijtihad, al jihad, dan al mujahadah, makna kata-kata tersebut tetap tidak bisa lepas dari makna dasar istilah jihad. Misalnya, al ijtihad berarti mengerahkan kemampuan dalam memutuskan perkara. Kemudian dalam tradisi sufi dikenal istilah al mujahadah yang berarti medan perjuangan spiritual dan jiwa seseorang.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, ''Maka, janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar.'' (QS Al Furqan [25]:52). Menurut Ibnu Abbas, makna jihad dalam ayat itu adalah berjihad dengan Alquran. Menurut Ibnu Ziyad, maknanya jihad dengan Islam dan ada juga yang berpendapat dengan pedang, namun Imam Al Qurthubi menolak keras pendapat tersebut karena ayat ini turun di Makkah, sebelum turun perintah perang.
Dalam sepenggal hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al Hasan, disebutkan, ''Tidak patut seseorang yang berjihad dengan hartanya (hingga habis) kemudian ia duduk untuk meminta-minta kepada manusia.'' Berjihad dengan harta tidak bisa diartikan sebagai perang tetapi mengorbankan hartanya sebagai implementasi perjuangan.
Dari pemaparan tersebut, jelaslah bahwa istilah jihad yang banyak disebutkan Alquran dan hadis memiliki multimakna, multitafsir, dan multibentuk. Sangat tidak tepat kalau kata jihad hanya didefinisikan dalam satu arti dan satu bentuk saja yaitu perang. Lebih tepat kalau kata jihad dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti perjuangan. Kata jihad baru identik dengan peperangan jika konteks maknanya dekat dengan istilah al qital, al harb, dan al ghazwah.

Thursday, December 01, 2005

GALERI



























Dalam Penjagaan Allah

Oleh : EH Kartanegara
Dalam Surat Ath Thariq ayat 4, Allah SWT berfirman, ''Setiap pribadi pasti ada penjaganya.'' (terjemahan M Quraish Shihab, Pustaka Hidayah, 1997). Terjemahan lain menyebutkan, ''Tidak ada satu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya.'' (Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Alquran Jakarta, 1993).
Perbedaan terjemahan itu terjadi pada kata nafs dalam teks ayat tersebut. Dalam bahasa Indonesia, kata nafs bisa diterjemahkan sebagai 'hati', 'ruh', 'jiwa', atau 'totalitas manusia'. M Quraish Shihab lebih condong menerjemahkan kata itu sebagai 'totalitas seseorang' atau kepribadian seseorang yang membedakannya dari orang lain. Itu sebabnya kata nafs diartikan 'setiap pribadi'.
Melalui petikan ayat yang didahului dengan sumpah itu, Allah SWT memastikan bahwa manusia sesungguhnya tak pernah lepas dari penjagaan Allah SWT. Detik demi detik, segala gerak-gerik dan perbuatan manusia dicatat sangat akurat dan tak mungkin keliru. Bahkan, segala yang hanya dibisikkan dalam hati atau dikhayalkan --baik tentang kebaikan maupun keburukan-- tak akan luput dari penjagaan Allah SWT. ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, '' (QS Qaf [50]:16).
Dalam konteks keimanan dan ketakwaan, hubungan Sang Penjaga dan yang dijaga ini memiliki beberapa makna yang unik. Pertama, sebagai Pencipta, Allah SWT menunjukkan cinta-Nya yang penuh tanggung jawab terhadap ciptaan-Nya. Penjagaan Allah SWT memberi ketenteraman hidup bagi manusia yang beriman. Dia tak pernah khawatir dan bebas dari rasa takut. Janji Allah SWT, ''Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati'' (QS Al An'am [6]:48).
Kedua, Allah SWT menegaskan peran-Nya sebagai Penguasa Mutlak atas manusia (Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, Pendekatan Semantik Terhadap Alquran, Tiara Wacana, 1997). Manusia hanya mengabdi (menyembah) kepada Allah SWT sesuai dengan kehendak Allah SWT pula. Di sinilah sebenarnya kata Islam menemukan maknanya: berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. ''Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.'' (QS 19:65).
Ketiga, penjagaan Allah SWT berarti bencana bagi manusia yang tidak beriman. Mereka menjadi seoerti seorang pencuri yang di mana pun selalu merasa diawasi gerak-geriknya, dirundung gelisah, dan diliputi rasa takut. Segala kejahatan, bahkan sekecil apa pun yang mereka lakukan, tak akan luput dari pengawasan Allah SWT. ''Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.'' (QS Al Zalzalah [99]:8).
Kelak, Allah SWT akan membuka segala hasil penjagaan-Nya kepada setiap manusia. Dalam Surat Ath Thariq ayat 9, Allah SWT menegasan bahwa pada hari itu ditampakkan segala rahasia. Manusia yang ingkar terhadap penjagaan Allah SWT, dua kali merugi: di dunia hidupnya gelisah dan di akhirat tak mampu membela diri